Integrasi Saintek dan Pertanian: KKN-T Cordova Luncurkan Inovasi Smart Farming di Desa Kalimantong

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Cordova menunjukkan kontribusi nyata dalam mendukung program Dikti Saintek Berdampak melalui inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Bertempat di Desa Kalimantong, Kecamatan Brang Ene, para mahasiswa menghadirkan sebuah solusi cerdas berupa alat pembasmi hama padi berbasis teknologi otomatis.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Cordova menunjukkan kontribusi nyata dalam mendukung program Dikti Saintek Berdampak melalui inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Bertempat di Desa Kalimantong, Kecamatan Brang Ene, para mahasiswa menghadirkan sebuah solusi cerdas berupa alat pembasmi hama padi berbasis teknologi otomatis.

Teknologi yang diusung berupa alat perangkap hama berbasis cahaya, dikenal dengan sebutan Light Trap, yang memanfaatkan lampu LED bertenaga surya. Lampu ini diposisikan di atas wadah yang diisi air sabun atau larutan tertentu. Saat malam hari, cahaya dari lampu akan memikat serangga hama seperti wereng dan walang sangit untuk mendekat. Serangga-serangga tersebut kemudian jatuh dan terperangkap di dalam wadah tersebut.

“Kami terinspirasi dari keluhan para petani yang kerap menghadapi serangan hama pada malam hari dan masih sangat mengandalkan pestisida kimia. Oleh karena itu, kami merancang sebuah teknologi yang sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan langsung oleh para petani,” ungkap Siswi Wani Wati, Koordinator KKN-T Kalimantong, pada Minggu (30/6/25).

Desa Kalimantong menjadi saksi penerapan teknologi ramah lingkungan yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN-T Universitas Cordova. Sebanyak 10 unit Light Trap — alat perangkap hama berbasis cahaya tenaga surya — direncanakan untuk dipasang di sejumlah titik lahan persawahan milik petani.

Hasil uji coba dalam dua pekan menunjukkan alat ini mampu menangkap banyak hama malam hari seperti wereng dan walang sangit, yang selama ini menjadi musuh utama tanaman padi. Efektivitas alat ini membawa harapan baru bagi petani untuk menekan populasi hama tanpa harus terus-menerus menggunakan pestisida berbahan kimia.

Ayubar, S.IP., Kepala Desa Kalimantong, menilai inovasi ini sebagai solusi praktis dan berdampak positif. “Sekarang ada cara yang lebih alami dan bisa dibuat sendiri. Ini sangat membantu para petani,” ungkapnya.

Sejalan dengan Visi “Saintek Berdampak” dan program yang diusung oleh Kementerian Pertanian, Dosen Pembimbing KKN-T Desa Kalimantong, Fatahullah, S.P., M.P., menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan perwujudan nyata dari program “Saintek Berdampak” yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Visi tersebut menekankan pentingnya hasil riset dan kegiatan pengabdian di perguruan tinggi untuk memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Lewat teknologi Light Trap, mahasiswa hadir membawa pengetahuan yang bisa langsung diterapkan dan memberi hasil nyata. Ini bukan sekadar kegiatan lapangan, melainkan bentuk nyata kontribusi untuk penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan di tingkat desa,” jelas Fatahullah.

Inovasi ini turut mendukung sejumlah program strategis Kementerian Pertanian, seperti Smart Farming 4.0, Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (Gerdal OPT), serta penguatan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KOSTRATANI). Kehadiran Light Trap dinilai sebagai bagian dari sistem perlindungan pertanian cerdas (smart protection) yang mengandalkan teknologi tepat guna dan relevan untuk diterapkan di kawasan pedesaan.

Selaras dengan tema besar KKN-T “Pemanfaatan Potensi Desa Berbasis Rukun Tetangga”, para mahasiswa juga mengintegrasikan pendekatan khas mereka yang disebut ADINATA, singkatan dari Adaptif, Digital, Inovatif, Networking, Aksi, Training, dan Adat, sebagai landasan dalam menjalankan program-program pengabdian mereka di desa.

“Mahasiswa tidak sekadar membawa konsep teori ke lapangan, tetapi juga menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal. Kami berharap inovasi ini dapat diterapkan di desa-desa lainnya, dan Light Trap menjadi titik awal menuju sistem pertanian cerdas yang berdaya secara mandiri,” ujar Fatahullah.

Sebagai langkah lanjutan, mahasiswa KKN-T akan menyelenggarakan kegiatan diseminasi pembuatan Light Trap kepada para petani. Selain itu, data pemantauan terkait efektivitas alat ini akan diserahkan kepada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Brang Ene sebagai bahan pendukung penguatan sistem informasi dan dasar pengambilan kebijakan berbasis data di tingkat desa.

Melalui hadirnya inovasi seperti ini, Universitas Cordova menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pembawa perubahan di masyarakat. Light Trap menjadi bukti bahwa solusi pertanian modern dapat lahir dari desa, sebagai pondasi bagi ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.

Loading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *