Dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2025/2026, Pesantren Modern Internasional Dea Malela menggelar kegiatan Masa Orientasi Pendidik yang berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kolaboratif. Acara ini menjadi momentum penting dalam menyatukan visi dan semangat seluruh tenaga pendidik dalam rangka membentuk generasi unggul yang siap berkontribusi bagi peradaban dunia.
Peserta kegiatan, yang terdiri dari para guru dan pengasuh pesantren, mendapatkan insight strategis serta inspirasi baru dalam memperkuat kapasitas kelembagaan masing-masing. Pertemuan ini bukan sekadar forum ilmiah, namun juga menjadi ruang silaturahmi dan kolaborasi antarpesantren dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing global.
Puncak dari kegiatan ini berlangsung pada Rabu malam, 9 Juli 2025, dalam sesi istimewa bertajuk:
“Materi/Konsultasi tentang Pengalaman Pengembangan Pondok Pesantren (Lessons Learned from Others’ Success Stories)”
Kegiatan tersebut menghadirkan lima tokoh penting dalam dunia pesantren dan pendidikan Islam, yang juga merupakan pimpinan pondok pesantren dengan rekam jejak kepemimpinan dan inovasi pendidikan yang menginspirasi. Mereka adalah:
- Dr. K.H. L. Zulkifli Muhadli, B.A., S.H., M.M.
- Dr. KH. Ahmad Fauzie Tijani, Lc., MA.
- Dr. KH. Anang Rikza, Lc., MA.
- Ahmad Syaoqie, S.Ag., M.Si.
- Ust. Fakih Udin, Lc.
Diskusi dan konsultasi ini dipandu langsung oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin, tokoh nasional dan intelektual Muslim, yang menambahkan bobot reflektif terhadap sesi tersebut.
Para pemateri berbagi pengalaman nyata mengenai tantangan dan terobosan dalam membangun dan mengelola pesantren di era globalisasi. Mulai dari strategi peningkatan mutu pendidikan, integrasi kurikulum keislaman dan sains modern, hingga pengembangan karakter santri berbasis nilai-nilai wasathiyah (moderat), semua dibahas dengan mendalam dan terbuka.

Hadir sebagai pemateri utama, Dr. K.H. L. Zulkifli Muhadli, B.A., S.H., M.M., pendiri Al-Ikhlas International Islamic Boarding School, asal Sumbawa Barat, yang menyampaikan pesan-pesan inspiratif tentang peran strategis guru dalam membangun peradaban Islam yang unggul dan bermartabat. Dalam paparannya, beliau menegaskan pentingnya orientasi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga integritas, spiritualitas, dan kepekaan sosial.
Dengan penuh semangat, Dr. Zulkifli Muhadli memaparkan bahwa pesantren tidak boleh lagi hanya menjadi benteng keilmuan klasik, tetapi harus menjadi pusat peradaban baru—yang melahirkan generasi Ulul Amri (pemimpin), Ulul Albab (cendekiawan), dan Ulul Amwal (wirausahawan), sebagaimana dirancang dalam konsep strategis Road to Success.
Beliau menekankan pentingnya sistem pendidikan terpadu atau 3-in-1 curriculum, yang mencakup:
• Tahfidz Al-Qur’an sebagai pondasi spiritual,
• Cambridge Curriculum sebagai akses kompetensi global,
• dan Kurikulum KMI Gontor sebagai penyeimbang nilai-nilai pesantren klasik.
Lebih lanjut, Dr. Zulkifli menyoroti bahwa proses pendidikan tidak cukup dengan membangun fisik dan sistem, melainkan harus dimulai dari penyiapan guru, penguatan karakter, hingga pemanfaatan teknologi dan bahasa global sebagai alat dakwah dan pengabdian.
“Pendidikan pesantren hari ini harus mampu menjawab tantangan zaman, tanpa kehilangan ruh keikhlasan dan nilai-nilai langit yang menjadi fondasinya,” tegas beliau di hadapan para peserta.
Sesi ini menjadi momen reflektif dan inspiratif bagi para pendidik di lingkungan Dea Malela dan tamu undangan dari berbagai lembaga mitra, karena bukan hanya berisi strategi pengelolaan lembaga pendidikan, tapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan historis yang mengakar dalam pengalaman nyata.
Kehadiran beliau sebagai pemateri sekaligus pimpinan dari pesantren mitra Al-Ikhlas Taliwang semakin mempererat sinergi antar-pesantren dalam mengembangkan ekosistem pendidikan Islam yang unggul, modern, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
![]()