Mimpi untuk menjejakkan kaki di benua Eropa dan merasakan atmosfer pendidikan kelas dunia kini berada di depan mata delapan mahasiswa berprestasi dari Universitas Cordova.
Pada Selasa, 2 Juli 2025, suasana di kampus terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Bukan tanpa alasan, hari itu adalah tahap penentuan: tes wawancara program beasiswa Erasmus, salah satu gerbang emas menuju pengalaman belajar internasional.
Kedelapan mahasiswa ini adalah mereka yang berhasil menyisihkan puluhan kandidat lain dalam seleksi administrasi yang ketat. Kini, mereka harus membuktikan diri sekali lagi dalam sesi wawancara yang menjadi saringan terakhir sebelum bisa terbang ke luar negeri.
Tahap Krusial yang Menentukan Segalanya
Proses wawancara ini tidak main-main. Diselenggarakan langsung oleh Departemen Pengembangan Bahasa (DPB) Universitas Cordova, seleksi ini bertujuan untuk memastikan hanya kandidat terbaiklah yang akan mewakili almamater di kancah global.
Dua tokoh penting dari kampus turun langsung sebagai pewawancara. Mereka adalah Ibu Anita, S.Pd., M.Ed., yang menjabat sebagai Sekretaris Bidang Pengembangan Bahasa Asing, dan Bapak Eka Siswantara, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP. Kehadiran mereka menunjukkan betapa seriusnya universitas dalam mempersiapkan delegasinya.
Bagi para peserta, ini adalah momen pembuktian. Bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tetapi juga tentang karakter, visi, dan kesiapan mental untuk hidup mandiri di negeri orang.
Apa Saja yang Dinilai dalam Wawancara?
Banyak yang mengira bahwa kunci utama lolos beasiswa luar negeri hanyalah skor TOEFL atau IELTS yang tinggi. Namun, dalam wawancara Beasiswa Erasmus ini, para penguji mencari sesuatu yang lebih dari itu.
Bukan Sekadar Kemampuan Bahasa
Menurut Ibu Anita, kemampuan berbahasa Inggris memang penting, tapi itu baru tiket masuk. Hal yang jauh lebih krusial adalah kesiapan mental dan budaya.
“Program Erasmus ini bukan sekadar piknik akademis. Mahasiswa akan dihadapkan pada tantangan lintas budaya yang nyata,” jelasnya. “Bagaimana mereka beradaptasi dengan sistem belajar yang berbeda, makanan baru, hingga norma sosial yang mungkin bertolak belakang dengan budaya kita? Kesiapan inilah yang kami gali. Mereka harus bisa menjadi duta yang baik bagi Universitas Cordova dan Indonesia.”
Artinya, pewawancara ingin melihat kandidat yang fleksibel, berpikiran terbuka, dan memiliki kemampuan problem-solving yang mumpuni.
Kesiapan Akademik dan Semangat Belajar
Di sisi lain, Bapak Eka Siswantara menekankan pentingnya kesiapan dari sisi akademik dan komunikasi. Keterlibatan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris adalah untuk memastikan mahasiswa tidak hanya bisa survive, tapi juga thrive (berkembang) di lingkungan akademis internasional.
“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa yang berangkat benar-benar siap secara akademik. Mereka harus mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas, menulis esai, dan mempresentasikan ide dengan percaya diri,” ujar Bapak Eka. “Semangat belajar yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar juga menjadi poin plus. Kami mencari mahasiswa yang akan memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk membawa ilmu baru kembali ke kampus.”

Pelatihan Intensif Menanti Kandidat Terpilih
Perjuangan belum berakhir setelah wawancara. Mahasiswa yang dinyatakan lolos tahap ini akan memasuki fase pembekalan intensif yang dijadwalkan berlangsung dari Juli hingga September. Dengan pertemuan dua kali seminggu, program ini dirancang untuk “memoles” para kandidat hingga benar-benar siap.
Materi pelatihannya meliputi:
Keterampilan Bahasa Lanjutan: Fokus pada penulisan akademik, teknik presentasi, dan diskusi kritis dalam bahasa Inggris.
Wawasan Budaya: Membekali mahasiswa dengan pengetahuan tentang etiket sosial, norma budaya, dan cara menghadapi culture shock di negara tujuan.
Kesiapan Akademik: Pengenalan sistem pendidikan Eropa, manajemen waktu, dan strategi belajar efektif di lingkungan baru.
Langkah Nyata Universitas Cordova Menuju Panggung Internasional
Program Beasiswa Erasmus ini menjadi bukti konkret komitmen Universitas Cordova dalam mencetak lulusan yang berdaya saing global. Dengan memberikan pengalaman belajar lintas negara, universitas berharap mahasiswanya dapat menyerap ilmu pengetahuan, memperluas jaringan, dan kembali dengan wawasan yang lebih kaya untuk membangun daerah dan bangsa.
Bagi mahasiswa yang terpilih, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Bagi universitas, ini adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan reputasi di tingkat dunia.
Panggilan untuk Para Pemimpi Berikutnya!
Kisah delapan mahasiswa ini tentu menjadi inspirasi. Bagi Anda, mahasiswa Universitas Cordova yang juga memiliki mimpi serupa, jangan patah semangat! Persiapkan diri Anda dari sekarang. Tingkatkan kemampuan bahasa, aktif berorganisasi, dan perluas wawasan Anda. Siapa tahu, tahun depan giliran Anda yang duduk di kursi wawancara itu!
![]()